Feed on
Posts
comments

Sering aku prihatin, dengan semakin besar anak dikandunganku, ada sedikit miris yang terbayang. Aku selalu membandingkan akan seperti apa kehidupannya dengan bagaimana kehidupanku dulu sewaktu masih kecil…

 

Waktu ku bayi dulu, mungkin belum banyak susu Asi formula yang aneh-aneh, enriched dengan berbagai vitamin, DHA, EPA etc-etc yang klaimnya bagus untuk mendukung pertumbuhan mental dan fisik anak. Yang aku inget, ibuku pernah cerita kalo dulu ASI-nya nggak cukup, beliau sering membuatkan air tajin untukku. Air tajin yang mungkin kandungan gizinya hanya karbohidrat semata.

 

Dulu waktu aku balita, aku hanya punya sedikit sekali mainan, sebuah boneka yang mirip Chaki yang tangan, kaki dan kepalanya bisa diprotolin dan dipasang lagi, truk dari kayu yang ukurannya muat buat aku naiki sehingga para Oom bisa narik-narik (dan aku tertawa kesenangan), trus mainan plastik dan tanah liat seperti kuali, panci, kompor juga sudah mewah dan menarik buat main bersama anak-anak tetangga… (Dulu naik becak ama andong aja senengnyaaaa setengah mati…)

 

Itu dulu, waktu segala kesederhanaan masih sangat berarti. Kegembiraan sudah ditanamkan tak hanya dari materi. Kasih sayang yang melimpah, hubungan yang baik dalam kehidupan sosial bersama keluarga besar kakek dan anak-anak tetangga. Saling memberi dan menerima. So pure

 

Dulu Dzuhur udah pulang sekolah, jadi kita punya banyak waktu bermain. Bebas berenang di Kali yang jernih, menangkap ikan (padahal aku cuma menangkap kecebong, menangis saat mereka tumbuh kakinya dan berubah menjadi katak di kolam rumah), main disawah dan di ladang.

 

Benar-benar masa-masa indah waktu kecilku di kampung…

 

Lalu aku membandingkan dengan kehidupan anakku nantinya.

Hidup dan tumbuh dikota besar seperti Jakarta-Surabaya. Polusi sudah dimana-mana, tetangga nyaris nggak punya, setiap rumah berpagar tinggi-tinggi, ada anjingnya pula. Sigh…, anak yang sebaya juga pasti susah sekali mendapatkannya.

 

Apakah anakku harus seperti anak jaman sekarang pada umumnya???

Hidup terjebak dengan dirinya sendiri tanpa sosialisasi, sejak kecil sudah nongkrong main game si komputer. Tak biasa berbagi.

 

Seorang teman bilang, anaknya sengaja masuk play group dari dini biar kehidupan sosialnya jalan dengan anak-anak sebayanya. Pointnya ada benarnya, tapi kadang kasihan juga, masih kecil, dunianya adalah dunia bermain tapi sudah harus kejar target belajar menghitung dan berbahasa Inggris.

 

Anak-anak pulang sekolah sudah sore, lelah, ga ada waktu bermain, eh masih dapat pe er pula. Kapan ya anak-anak bisa bermain dan tak kehilangan keceriaan? Aku pengin anak-anak tetaplah anak-anak di usianya, bukan anak-anak yang terlalu cepat matang oleh lingkungan. Tapi berat sebagai orang tua, secara kita bekerja, pengawasan tak mungkin 24 jam. Lingkungan benar-benar akan menjadi guru mereka. Okelah kalo mereka udah besar, dimana mereka cukup bekal untuk menyaring informasi yang benar dan yang salah. Tapi kalo masih sedini usia balita dan SD???

 

Sering aku malam-malam berasa putus asa sendiri. Bagaimana nanti harus mendidik anak-anak disaat lingkungan sudah begini liarnya, bagaimana agar amanah Allah bisa kita emban dengan baik?

 

Oughh, susahnyaaa…

Pengin rasanya pulang kampung kalo bener-bener desperado. Tapi kan anak kampung jaman sekarang juga sudah tersentuh nilai-nilai tak baik warga kota yang terhormat?

 

Udara jakarta makin kering dan panas, debu beterbangan. Beberapa kolega sudah pilek dan batuk flu. Alam sudah mulai tak bersahabat. Keindahan alam tinggal cerita, dan hanya remah-remahan saja yang kita sisakan buat anak cucu.

 

Maafkan bunda anakku, bunda tau, kau hadir di dunia bukan atas kehendakmu, Namun saat kau datang, hanya sisa-sisa kehidupan yang kau dapatkan…

 

Ya Allah, kami hanya mampu pasrah pada-Mu…

 

Jakarta,23 Oktober 2008

*)Semoga panasnya dunia tak sanggup menguapkan kadar iman kita kepada-Nya

Minggu ini, si Kakak, panggilan kami terhadap si bebi yang masih di perut bundanya udah 22 weeks, means udah setengah perjalanan lebih untuk segera melihat dunia yang penuh warna. Jenis kelamin belum kelihatan secara terakhir periksa si kakaknya tengkurep jadi ga keliatan.

 

Padahal sebagai calon ortu baru, aku udah excited buat pengin belanja belanja kebutuhan si Kakak (atau kebutuhan emosional Bundanya untuk belanja?). Gender kan menentukan pilihan. Mau cari option nama juga masih males, ntar aja kalo udah jelas biar nyarinya focus, hehehe.

 

Si Ayah bilang, Bunda ga boleh belanja dulu yang aneh-aneh, tunggu instruksi dari mama mertua, karena mama masih punya barang-barang bekas Dico, cucu pertamanya. Jadi biar ga reinvesting the will, gitchu. Ya udah, si Bunda pun menyabar-nyabarkan diri walo kalo lagi jalan di mall dan liat pernak pernik bayi bawaannya pengin mampir. Mampir boleh tapi beli jangan, tapi si Bunda kan bukan orang yang kuat iman, jadi mending nggak mampir daripada PASTI beli sesuatu, hehehe.

 

Si Ayah pernah bilang, “Kita itu baru menghuni rumah ini bentar, tapi kok barang-barang udah numpuk dimana-mana ya?pokoknya ayah ga mau beli-beli barang lagi yang bikin sumpek rumah.”

 

Yeee, ayah itu gimana sih, ntar kalo ada si Kakak kan daftar barang yang bakal numpuk makin banyak aja tuh, hihihi.

 

Satu hal yang paling menyenangkan adalah tiga bulan lagi, harus cuti maternity. Itu berarti bisa deket selalu dengan ayah selama setidaknya tiga bulan. Biasanya calon ibu muda lebih suka melahirkan di rumah ibunya, secara pasti lebih enak dan nyaman. Sebenarnya aku juga pengin gitu. Tapi dengan berbagai pertimbangan seperti: 1). Biar ga rebutan, mau lahiran di rumah ibu atau rumah ibu mertua, kan adil melahirkan di rumah sendiri. 2). Selama ini kan hidup jauh dari ayah, setidaknya selama tiga bulan bisa bener-bener focus ngurusin ayah. Mumpung ga ada beban kerjaan juga kan?

 

Untung orang tua kami tidak berkomentar apa-apa terhadap pilihan tempat melahirkan. Si Ayah beralasan, bahwa fasilitas kesehatan di Surabaya jauh lebih baik daripada di Magelang atau Bojonegoro, jadilah mereka maklum adanya.

 

Tapi ada satu hal yang agak membuatku berpikir panjang. Nganggur selama 3 bulan pasti bikin aku ga betah, so, berikut adalah hal-hal yang aku propose kepada suamiku :D

 

Yang pertama, aku pengin punya kesibukan, secara dari hamil muda pengin banget piara kelinci, (sempat ditentang sama mama tapi alhamdulillah kata dokter boleh), aku pengin piara kelinci. Sepasang kelinci warna putih coklat dan putih hitam. Namanya Chikoe (baca ciku, artinya kelinciku) dan Chimoe (Baca Cimui, artinya kelincimu). Bahkan saking penginnya punya kelinci, aku juga udah punya mana untuk 2 anak-anak Chikoe dan Chimoe ini kalo sudah lahir. Yaitu Chita (Kelinci kita) dan Moekoe (Kamu aku, hihihi). Kebetulan dibelakang rumah kami masih ada lahan kosong, jadi mereka bisa menempatinya sementara itu halaman belum ditanemin bunga dan lain-lain.

 

Yang kedua, aku ga mau gaptek, atau lebih tepatnya ga mau gapgos alias gaptek gosip. Jadi aku insist si Ayah buat pasang internet. Mungkin nanti kami akan pilih IM2 yang volume base buat broswing-browsing ria. Sehingga walopun dirumah, masih bisa ceting dan email-emailan sama teman-teman diluar sana, hihi! Maklum, eike kan socialita, hidup sendirian itu killing me softly…

 

Yang ketiga, aku pengin banget membunuh waktu dengan menyalurkan hobi berkreasi yang mandeg. Pengin bikin kue, roti, pie dan lain-lain. Sekarang kalo lagi senggang, aku udah mulai browsing resep yang mau aku coba, majalah saji dan sedaap juga ada di kosan siap di implementasikan. Yaa, nanti kalo bikinnya kebanyakan, biar dibawa kekantor untuk hasil yang layak ditelan hihihi.

 

Sayangnya yang ketiga ini butuh banyak dana, mulai dari beli mixer, oven, blender, loyang customized, cetakan-cetakan kue, pancake pan, timbangan digital, cup takaran, dll. Si Ayah bilang, “Bunda pikirin dulu deh, itu butuh uang banyak lho. Kebutuhan kita saat kakak lahir pasti banyak, belum juga nyiapin buat akikah segala macam… Sekarang bunda siapin capex proposalnya aja dulu…”

 

Iya sih, beli kelinci = duit, pasang IM2 = duit, beli alat-alat kue = duit juga. Sigh… memang susah buat menabung itu…

 

 

Jakarta, 11 September 2008

*) Sudah ngga sabar nunggu buat cuti besar hehehehe

Disaat seperti ini, jujur, tanpa mengurangi rasa hormat dan cinta pada suamiku, orang yang paling aku kangeni adalah maknyak, ibuku di kampung…

Bener banget kata orang, jangan pernah berani apalagi sampai durhaka pada ibu, karena ibu benar benar berjuang untuk bisa membuat kita tampak seperti ini.

Apa yang aku alami walaupun berbeda dengan ibuku hampir lah mirip. Dulu saat ibu mengandungku, dia jauh tanpa ditemani ayahku. Perjuangan yang sangat berat dan penuh air mata. Kini baru kusadari, bahwa aku (yang saat itu yang masih dikandungnya), adalah satu satunya tumpuan harapan, satu satunya semangat yang membuat beliau untuk tetap hidup. Tempatnya mengadu, bercerita, dan menangis tiap malam…

Disaat aku mengalami apa yang beliau rasakan, subhanallah, rasa syukurku pada Allah, aku masih memiliki suami yang mendukungku sepenuhnya. I cant imagine if I were in her position.

Ya Allah, ampunilah ibuku, berikanlah beliau rahmat yang berlimpah.

Dalam hatiku terasa sesak, sampai sekarang pun aku masih mengecewakan beliau, masih belum bisa membahagiakan beliau sepenuhnya…

Aku kangen ibu…

Aku ingin pulang…

Aku ingin dipeluk…

Aku ingin menangis…

Aku ingin mencari kehangatan yang lama tak kurasakan lagi.

Kata buku, wanita hamil emang emosinya labil, kadang senang berlebihan, kadang sedih secara berlebihan pula. Mungkin aku satu diantaranya. But I cannot stop thinking. Aku merasa kesepian…

Sering aku takut, aku nggak bisa jadi ibu yang baik buat anakku. Sebaik apa yang ibu pernah lakukan padaku.

Percakapan kami para ibu dikantor siang itu.

“Ya Allah, anak jaman sekarang itu macam-macam…” kata ibu A membuka pembicaraan. Kita sedang membahas fenomena ayam kampus yang beberapa saat lalu ditayangkan di TransTV.

“Padahal mereka begitu bukan karena uang jajannya kurang, mereka melakukan itu demi sesuatu yang sebenarnya merupaka kebutuhan tersier seperti mode dan hang out ditempat mahal…” timpal ibu B.

“Kita sebagai ibu Cuma bisa ngasih bekal pendidikan moral sampai smu, setelah itu anak jauh dari kita.”

“Betul, dan segalanya benar-benar ditangannya sendiri segala keputusan apa yang akan dilakukannya…”

“Susah ya jadi orang tua jaman sekarang…”

Sigh…

Emang susah jadi orang tua jaman sekarang. Itu pembicaraan yang dari jaman smu dulu sampe sekarang diantara aku dan teman temanku ga pernah ketemu solusinya. Mungkin karena otak kita yang waktu itu nggak nyampe.

“Gw pengin anak gw tetep ngerasain hidup susah kayak kita walopun saat itu kita sudah nggak susah.” Kata kata iik masih terngiang dikepalaku. Waktu itu Arif menimpali,

“Bagaimana kalo kita kasih anak-anak kita simulasi kehidupan?” usulnya.

“Maksudmu apa?” tanyaku.

“Misalnya, kita ajarkan untuk selalu bepergian pakai kereta ekonomi, pulang berangkat sekolah naik angkot, jatah uang saku pas pasan. Biarin aja begitu…” Anak-anak mengangguk setuju.

Setidaknya itu yang kepikiran saat itu. Sebuah ide yang sangat sederhana.

Sepuluh tahun tepat yang lalu, dipantai panjang pulau Sempu Malang. Aku, Weka, iik, Pikoh, Acung. Waktu liburan sekolah. Waktu itu semua orang sudah beristirahat. Hanya kami berempat yang duduk melingkar ditepi pantai, mengubur kaki kita bersama untuk mencari hangat dari pasir yang masih panas menyerap sinar mentari. Iik menyalakan sebatang lilin yang tinggal setengah lalu menancapkan digunungan pasir yang mengubur kaki kaki kami. Perlahan tapi pasti kami saling bercerita. Bercerita tentang sesuatu yang tersimpan dalam dibalik senyum ceria kami. Ada yang ayah kami keluar masuk penjara, ada ayah satu dari kami suka berjudi, ada yang satu dari ayah kami berselingkuh, dan lain lain. Setiap kami memiliki masalah kami sendiri. Kami menangis bersama-sama. Ternyata selama ini kami mencari kehidupan kami sendiri. Tumbuh liar di dunia luar dan menjadi anak anak yang nggak kerasan tinggal dirumah. Satu yang pasti, mereka dibesarkan oleh kekuatan seorang ibu. Walo mereka berjanji, kelak jika menjadi seorang ayah, mereka akan menjadi ayah yang baik. Amien…

Kekuatan seorang ibu…

Kembali aku merenung mencari benang merah semua kejadian.

Bahwa ajaran moral harus ditanamkan kuat agar anak setelah lepas dari orang tua tetap ada dijalan yang benar…

Bahwa jaman kelak saat anak-anakku remaja akan jauuh lebih berat daripada jaman aku remaja…

Tiba-tiba bayangan wajah Acung terlintas dalam bayanganku. Wajah saat dia menimpali kata kata Arif saat Arif berbicara soal simulasi hidup susah buat anak-anak. Acung yang diam dan wajah menerawang, berkata,

“Setidaknya sama dengan moral kita. Mungkin rasanya disaat jaman seperti ini susah berharap lebih, walo jujur aku pengin anakku jauh lebih bermoral daripada aku. Aku pengin, setidaknya mereka sama dengan moral kita…”

Setidaknya sama…

Setidaknya sama?

Seandainya kita menginginkan anak kita memiliki moralitas yang sama dengan kita, lalu apa yang mesti kita lakukan?

Anganku kembali melayang diawal tahun delapan puluhan saat aku even masih belum masuk TK. Berhubung ibuku tak punya kehidupan lain selain aku, hampir 24 jam aku bersama ibuku. Dibawa ke sawah, ke pasar, ke kali, kemanapun. Disetiap senggangnya, ibu selalu mengajariku banyak hal. Salah satu yang paling sering adalah agama.

Ibuku bukan orang berpendidikan. Wanita desa yang sangat sederhana, yang tidak pernah memiliki specific objective dalam setiap ajarannya. Beliau hanya menyampaikan apa yang beliau ketahui saja.

Aku baru menyadarinya sekarang.

Hal pertama yang ibu ajarkan adalah menghafal kalimat syahadat. Hal yang kedua adalah surat Al fatihah, dan surat yang ketiga yang aku hafal adalah al Ikhlas. Basic tauhid yang beliau tanamkan setiap hari. Setiap menjelang tidur, aku tak pernah didongengin cerita apapun karena literatur beliau terbatas. Tapi beliau konsisten menceritakan hal yang berulang ulang. Ialah surat Al Ikhlas. Ajaran bahwa tuhan itu Esa.

Dan entah kenapa, aku tak penah bosan mendengarnya. Doktrin ibuku setiap malam. Tuhan maha Esa… Juga Tuhan yang maha Melihat…

Setidaknya, sebandel-bandelnyanya aku, doktrin itu yang aku masih ingat. Ibu juga tidak mengajarkan bahwa kita perlu takut pada tuhan, tapi kita perlu mencintainya.

Takut akan membuat kita jauh, mencintai akan membuat kita dekat.

Hiks.

Ajaran yang sampai kini menyentuhku, bahwa beribadah bukanlah untuk mencari ganjaran/pahala, tapi sebagai refleksi rasa cinta kita pada-Nya.

“Terserah Alah mau kasih nilai kita berapa, yang penting kita ikhlas beribadah padanya karena kita mencintainya…”

That was ajaran basic tauhid yang ibuku tanamkan padaku. Tentu saja waktu itu aku belum bisa mencernanya. Hanya menyimpan informasinya saja. Karena waktu kecil aku juga nakal. Harus diuber-uber kakek dulu untuk mandi dan sholat (sekarang juga kalo mandi mesti diuber-uber dulu, Cuma ngubernya beda, dulu pake ancaman sekarang pakai fasilitas air hangat, ibuku memang hebat!).

Salut pada ibuku, setidaknya walopun aku masih jauh dari yang beliau harapkan, at least aku nggak nakal nakal banget, hehehe!

Maaf ya Mak, anakmu kok kayak gini hiks.

Kembali pada peran diriku sendiri yang akan menjadi ibu juga.

What I have to do? To educate my kids akan moral dan basic tauhid? Masih terngiang nasihat pak Ustad dihari pernikahan kami,

“Berikanlah ajaran dengan teladan…”

Yang jelas I need to improve a lot my knowledge, ilmuku banyak yang tak kupelihara, imanku futur sudah lama, saatnya berbenah diri, bertaubat dan back to Him

Sudah terlalu jauh hamba ini dari-Nya…

Dengan mengharap cinta-Nya untuk bisa menuntunku, suamiku, dan anak-anak kami kelak menuju ridho-Nya…

Amien…

Jakarta, July 2008

*) Kalo emak hebat, bunda juga bisaaa!semangat hari kebangkitan nasional :D

When everything started…

36 days ago I married to my beloved hubby… Hanya dua minggu sempet hidup serumah karena selanjutnya gw masih musti melanjutkan pekerjaan di Jakarta.

Setiap orang selalu memandang kasihan pada kami, newly wed yang mesti hidup berjauhan.

“Sampai kapan?”

Sampai kapan-kapan.” Jawab kami dengan senyuman. Biasanya kami tambah dengan kata-kata…

”Mohon didoakan saja agar kami cepat berkumpul…”

Perjalanan selanjutnya memang tidak mudah. Karena bolak balik dua minggu sekali ternyata tidak cukup. Seminggu sekali Jakarta – Surabaya cukup easing the pain of loneliness. Of course it is high cost. Pp sebulan 4 juta bokk, kapan nabungnya ? :D

When every body congratulated us,

“Semoga cepet dapat momongan yaa…” Kadang kita tersenyum, dalam hati berbisik,

“Doain dulu dong kita bisa hidup serumah…”

Awalnya menyedihkan, poor us yang selalu dikasihani orang. Tapi lama-lama cukup terbiasa, apalagi banyak teman sesama commuter Jkt-Sby yang ketemu di pesawat. Komunitas ini banyak juga. Yang demi anak istri pada rela pulang balik. Air Asia, Mandala, dan penerbangan relatif murah laris manis di hari Jumat malam dan Minggu Malam.

Lelah, tapi excited.

Bayangin aja, tiap jumat sore bawaannya pengin lari. Ke airport, kepelukan suami yang sudah menunggu di sana. Pesawat delay jadi bete banget. Sampe pernah memohon ke petugas, bahwa 30 menit sangat berharga, kalo boleh ijinkan ke pesawat yang sebelumnya. Seorang bapak-bapak asli Gresik sesama komuter tersenyum berusaha membantu.

”Iya mas, kalo ada 1 seat kasih ke mbaknya ini… Pengantin baru kasihan…”

Gw tersenyum tersipu-sipu. Nyampe Juanda, gw jadi runner tercepat. Salip sana sini dengan gesit, demi ketemu suamiku. Yang selalu menunggu tenang diujung penjemputan. Lalu kita pergi keluar bandara. Sepanjang perjalanan ke rumah, suamiku pasti bertanya,

”Besok mau makan apa aja, sayang?”

Benar-benar deh. Tiap ke Surabaya ibarat wisata kuliner buat aku. Kalo pulang jakarta minggunya, aku (eh gw, alah ga konsisten niy) pasti naik 1 kg. PR buat working week untuk nurunin lagi :D

Rawon, soto pak Jayus, soto Taman Bungkul, soto Ambengan pak Sadi, Pecel bu Elis, Tempe Penyet, Rujak Cingur (walo aku ga suka), Bebek bakar tenda, es kacang ijo, wedang Ronde Jemursari, sampe tahu tek tek keliling di Rungkut Bharata kita jabanin. Hehehehe! Makanan di sana emang murah dan enakkk!

Dududu….

When Everything has changed

Tepatnya seminggu lalu. As I know, Haid terakhirku tanggal 12 April. Seminggu tepat akad nikahku. Ibu dan tanteku pada heboh,

”Wah kalo haid pas sebelum nikah pasti ntar langsung jadi nihhhh…”

Ah, masak sih. Lagian kita belom ngeplan untuk buru-buru. Selama aku masih di Jakarta, penginnya sih nggak dulu :). Nah, bulan Mei harusnya tanggal 10 aku dapet lagi. Tapi berkali kali ke toilet hasilnya nihil. Ku tunggu sampe tanggal 12, siapa tahu Cuma telat dua hari. Dan ternyata nggak juga. Aku mulai panik, hehehe…

Tiap malam badan demam tinggi, perut mules-mules ga jelas dan perih. Gw udah mikir,

”Ahh, jangan-jangan tipes aku kumat lagi…”

Sendi-sendi sakit. Bener bener kayak mau kena tipes. Gawat deh… Tapi ada yang mencurigakan, aku juga mual, jangan-jangan….

Aku cerita sama suamiku semua yang aku rasakan.

”Kita coba pake test pack yuk.”

Aku beli test pack, tapi ga berani nyoba. Akhirnya suamiku bilang,

”Ya sudah, nanti kita coba sama sama di Surabaya ya…” Katanya sabar. Padahal aku tahu, pasti beliau juga panik :D.

Sabtu pagi bangun tidur, aku kebelet pipis, aku bangunin suamiku, aku ajak ke kamar mandi. Suamiku menunggu di luar pintu.

Jam 3 pagi.. detik detik yang menegangkan

Aku sobek bungkus Sensitive

Aku tampung pipisku sedikit di bekas gelas Aqua

Lalu aku celupkan bagian ujung detector sensitive stick ke air pipisku.

Kita menunggu sambil deg degan…

2 menit kemudian Garis yang kita tunggu muncul. Subhanallah, dua garis. Jelas sekali. Suamiku ampe pengin liat berkali kali buat mastiin.

Aku positif hamil.

Rasanya senang, gembira, takut, panik, bingung campur aduk. Suamiku memelukku erat.

”Alhamdulillah, Allah sudah mempercayakan kita untuk pegang amanah…” Aku menangis. Speechless.

Sabtu siang kita berangkat kerumah mama-bapak. Dijalan kita mikirin caranya gimana ya ngasih tau mama soal kehamilanku. Bingung cara mulainya. Kita tertawa, tertawa karena takut diketawain, masak baru nikah sebulan udah hamil aja sihhh. Subur amattt!

Baru hari minggu pagi terlaksana. Itupun ga sengaja. Aku habis muntah dari kamar mandi, mas lagi ngobrol sama mama, dan aku ambil Vicks vapourub dari kamar. Lalu aku duduk di samping mama. Mama bertanya,

”Kenapa, sakit?” aku menjawab,

”Iya ma, mules-mules” Mama tersenyum,

”Udah telat ya!” tembaknya. Aku senyum-senyum. Mas menimpali,

”Iya ma, udah satu minggu…”

”Alhamdulillah…” Kata mama sambil tersenyum lebar. Langsung dapat petuah macam macam. Ga boleh makan ini, harus makan itu, ga boleh begono, begini, begitu… Fiuhhhhhhhhhh……..

Senin malamnya, buat mastiin, kita janjian sama dokter kandungan. Rekomendasi dokter Neni istri mas Bekti, temannya suamiku. Antrian di-Dokternya rame bgt. Kita baru diperiksa jam setengah duabelas malam!

Melihat tampang bego kita, si dokter tersenyum.

”Udah telat yak?”

”Iya dok seminggu…” lalu dokter meriksa pake USG.

Oh, my God. Deg degan bgt waktu dokter cari cari posisi si kecil dengan alat itu. Agak lama ga ketemu. Masku menunggu disampingku sambil berdiri juga tampak deg degan. Sampai akhirnya…

”Ah, ketemu. Masih kecil banget. Liat titik ini kan, ini kantong kehamilannya…” ujar dokternya sambil membuat lingkaran di titik hitam –suspected- as my baby.

”Bagus kok, ada di dalam kandungan, aman..” Alhamdulillah…

”Dok saya rahimnya ada kelainan ga, seperti myom2 gitu?”

”Oh enggak, kalo bisa hamil berarti kan normal…”

Lalu dokter menyarankan untuk mengkonsumsi folavit. Konsentrat asam folat agar pembelahan sel bayi normal, menghindari agar bayi tak cacat. Dokter juga menyarankan untuk tes TORCH secara aku punya sejarah dengan binatang-binatang. Kucing-kucing, Mario, Junior, Burick, Geri, Snowbee, Kelinci-kelinci, dan ayam kembar itu Chicka dan Chicki, dan Gorilla!. Oh, aku takut. Hiks hiks.

Dokter bilang perkiraan lahirnya Januari. New Year New Baby, ama mas diitung, should be 17 January, teorinya…

”Banyak minum biar ga demam terus…”

”Bayi selama belum ada plasenta, masih makan dari hormon, rentan terhadap perubahan suasana hati ibu. Jangan stress, hepi terus yaa…”

”Makan sedikit sedikit tapi yang sering, biar nggak maag dan ga mual muntah..”

”Boleh makan apa aja, nggak berpantangan…”

Semua aku catet dalam hati. Diperjalanan pulang, masku nambahin petuah dokter. Mesti bikin log book, catat makanan apa yang dimakanan, catat medical recordnya, sehari muntah berapa kali. Sehari mual berapa kali. Fu fuffufufu….

My heart still beating faster and faster

Dag dig dug belum selesai… Aku masih menjalani pemeriksaan torch dulu. Kamis baru punya waktu ke Prodia di Kramat. Tes kesehatan mahal bokkk yang belum tentu kompeni mau bayar, hiks. Darah 3 ampul diambil. Lemes gw. Dan dibilangin baru bisa di ambil Jumat jam 11 siang, which is tadi siang.

Di ruang tunggu Prodia terpampang poster pentingnya uji TORCH buat ibu hamil. Infeksi TORCH itu berbahaya bagi janin terutama buat trimester pertama. Bayi bisa hedracephallus, gangguan mental, pendengaran, herpes, penglihatan, etc-etc. Gw makin ngeri membayangkan yang nggak-nggak…

“Infeksi TORCH tidak spesifik sehingga sulit dibedakan dengan penyakit lainnya”

Gw makin nervous… Perasaan sayang sebagai ibu mulai muncul. Gw ga pengin anak gw kenapa kenapa. Gw pengin si dedek lahir sehat jasmani rohaninya…

Dari tadi malem gw susah bobok Mikirin yang seram seram. What if torch gw positif. Gw Cuma nangis doang di telpon sama suami gw. Sejak hamil, gw makin sensitif, rapuh, gampang nangis, cengeng bgt :D

Dikantor uda ga konsen. Jam 11 gw berangkat ambil hasil test. Untung sepi. Gw langsung dipanggil. Amplop kuning gw pandangi, gw intip2 ngga jelas. Mau buka ga berani. Takut kalo hasilnya nggak oke aku malah pingsan dan ga bisa pulang sendirian. Kuputuskan aku buka abis sholat dzuhur aja. Biar tenang, pasrah apapun keputusan Tuhan padaku dan anakku. Makan rasanya ga enak. Lalu sholat dzuhur. Lalu siap siap buka amplop. Tangan gw bergetar. Untung sepi kantor gw. Jadi bisa meminimalkan efek negative yang mungkin terjadi…

Amplop gw baca: Kepada Dr Pudjo (Hmmm, sebenarnya ini buat dokter gw ya? Lancang bener gw buka duluan)

Gw buka, ada berlembar lembar

Halaman pertama tentang laporan darah total gw. AB RH positif, semua normal kecuali Hb gw rendah (ya iya lahh, makan di muntahin mulu, gimana bisa bikin darah merah?), eritrosit juga dibawah normal. Pantes kalo ga pake listik gw pucet bgt!

Halaman kedua grafik, gw ga bisa baca.

Halaman ketiga dan ke empat laporan TORCH

……………..

……………..

…………….

GW GA BISA BACA…

…………………………………

Rasanya kayak mau nangis

Anti toxo IgG postif

Anti Toxo IgM negatif

Anti Rubela IgG positif

Anti Rubela IgM negatif

And soon and soon

Gw bingung

Kok negatif positif gini

Jadi yang bener apa?

Aku positif atau negative TORCH? Gw pengin nangis.

Sms masku pengin telpon blom dibalas. Lalu memberanikan diri telpon dokterku…

”Dok, saya bacakan hasilnya mohon disimak yaaa…” Dokter yang baik yang suaranya tampak abis bobo menjawab ramah,

”Iya silakan” Dokter mendengarkan dengan seksama. Lalu menjelaskan.

”Ibu sehat kok. Yang penting semua anti IgGnya positif itu bagus, yang paling penting IgMnya negative…”

Allah Blessing me… Alhamdulillah. Aku legaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget. Lega kayak abis pup setelah seminggu gak pup! (menurut gw kenikmatan dunia paling utama itu bisa pup, jadi maaf kalo ilustrasi kelegaan gw pake istilah pup ~_^).

Pas selesai telp dokter, mas bilang boleh telpon beliau. Aku curhat abis. Ah legaaanya.. aku bahagia sekali… Subhanallah…

Walo ini masih belum akhir dari cerita, setidaknya aku boleh lega satu babak… Thanks God, many many thanks yang ga terhingga…

My only wish…

Semoga si baby yang masih 4 minggu ini tumbuh sehat jasmani rohaninya, amien…

Jakarta, 23 May 2008

*) Just feel what my mom felt when the first time she’s expecting me :D, so sweet

*) Thanks to my husband who always give us support, we love you…

Sudah lama mbokdhe enggak nge-blog. Emang sangat sibuk akhir-akhir ini. Sekarang nge-blog juga bukan karena nggak sibuk. Tapi karena lagi ngidam tempe tapi kagak ada tempe.

Ngomongin tempe emang sederhana. Tempe ya tempe. Terbuat dari kedelai rebus yang dikuliti terus difermentasi selama sehari semalam sampai kapangnya tumbuh membuat butiran kedelai saling bersatu.

Selain enak tempe juga makanan murah. Makanan berprotein tinggi yang masih dapat di jangkau oleh kaum proletar sekalipun. Lalu apa yang terjadi dong kalo tempe di pasar menghilang?

Kaum proletar harus men-substitusi protein murahnya itu dari mana?

Dari ayam? Nggak mungkin, ayam lebih mahal dari pada tempe.

Dari sapi? Harga sekilo daging sapi 4 kali lipat harga ayam.

Dari ikan? Ikan segar mahal, ikan asin yang memungkinkan.

Sigh…

Beberapa pedagang tempe terpaksa mencampur tempe dan tahunya dengan parutan singkong dalam upaya menekan cost productionnya. Beberapa waktu lalu, paguyuban pengrajin tempe-tahu malah demo minta harga kedelai di turunkan.

Hmm… Serba susah.

Sekarang untuk makan aja orang harus berkompetisi dengan mobil. Di Brazil, mobil dengan biodisel sangat populer.

Di Malaysia yang penghasil sawit terbesar di dunia, para ibu2 heboh beli minyak di pasar karena ada berita bahwa supply minyak makan dalam negeri akan shortage dalam waktu dekat. Malah ada ibu2 yang tertangkap saat mau menyeludupkan minyak goreng 27 kg ke Brunei. Ironis. Kayak anak ayam yang mati di lumbung padi.

Indonesia yang juga nomer dua untuk supply sawit juga ngaco. Beberapa saat yang lalu, untuk dapat minyak curah aja, penduduk harus ngantri jatah. Untung pemerintah segera menetapkan pajak ekspor sawit lebih besar dari pada komoditi lain. Pemerintah juga menggertak para produsen minyak untuk peduli pada supply dalam negeri.

Lhoh-lhoh, mbokdhe kok ngaco ngomongin tempe tiba-tiba ngomongin minyak?

Ya iya lah. Di luar negeri kedelai juga dibikin minyak. Kedelai juga dijadikan bahan buat biodisel. As well dengan bunga matahari, kacang, canola, corn, dll. Walo diakui, efisiensi paling besar untuk konversion-nya adalah dari palm oil.

Pengrajin tempe tahu kita membeli kedelai dari koperasi tahu tempe. Dari hasil interview sekitar lima tahun silam, 90% kedelai yang digunakan adalah kedele impor amerika, jauh lebih murah, lebih bagus kualitasnya, dan bisa menjamin konstan supply. Saya waktu itu bertanya, apakah issue GMO waktu itu menjadi isu? Mereka bilang tidak. Mereka tak peduli mau kedele amerika itu GMO atau tidak. Kedele dalam negeri gagal bersaing karena mutunya jelek, kadar airnya tinggi, mudah rusak, tidak empuk, dan harganya mahal. Hiks hiks.

Sekarang tempe terancam keberadaannya.

Kalau harga susu naik gara gara sapi kurang makan karena rumputnya pada kering gara-gara global warming (it seems that global warming jadi kambing hitam semua kesalahan), maka tempe langka karena kedelenya dipakai jadi bensin. Mbokdhe cuma bisa nyengir.

I want my tempe back!

Plisss…

Apakah kampanye Mari Makan Tempe masih berlaku?

*) Desperately missing makan tempe, apalagi makan tempe penyet di Surabaya berdua ama Mas sayang, hehehe.

Seperti biasa, walopun judulnya kelihatan sok religius, di blog ini mbokdhe hanya sekedar ingin membahasnya dengan sudut pandang logika mbokdhe sebagai manusia…

Nggak terasa udah bulan Kurban lagi dalam hitungan hari ke depan. Bulan Dzulhijjah juga sangat berkesan buatku karena kata maknyak tercinta, aku dilahirkan di bulan ini. So tepat akhir Dzulhijjah, aku sebenarnya udah akan berulang tahun ke dua puluh tujuh versi kalender islami. Wah, betapa tuanya guweeee… perasaan ultah ke dua puluh enam di tanggalan masehi baru lewat sebulan yang lalu, hiks-hiks.

Sebelumnya kita bahas yang menyenangkan dulu untuk apa yang akan terjadi di bulan ini. Satu hal yang jelas, kami di project team memutuskan bahwa efektif day untuk Desember hanya 19 hari since tanggal 20 keatas orang udah off dari office. Semua harga flight menjulang tinggi. Sampai eike yang biasa pulang naik pesawat sejak upgrade status social (walah!) dari mahasiswa menjadi pekerja kantoran, terpaksa back to basic malah even worse. Nyari tumpangan gratisan, dan berhasil merayu iik untuk pulang ke Magelang bersama naik Honda Civic barunya. Asoy… Paling gw Cuma modal ngoceh dan bercerita agar dia nggak ngantuk sepanjang perjalanan Jakarta-Magelang.

Wah, liburan panjang sekali ya. Dua minggu berturut-turut. Devina lagi berbinar-binar karena pangeran Nigeria-nya akan pulang tanggal 21 ini, Citra dah pengin kabur lagi ke Pelabuhan Ratu walo dia abis menghilang dan gosong selama seminggu di Flores.

Tanggal 20 ini hari raya kurban. Banyak hal yang bisa direnungi dari sebuah pengurbanan…

Inget satu pepatah yang dipopulerkan film Transformer (ini bukan ya judul filmya? Aduh lupaaa!), Witwicky tua berkata,

“No SACRIFICE no VICTORY”.

Dan islam mengajarkan pentingnya kesadaran berkurban dengan men-dedicated-kan satu hari besarnya untuk mengingatkan umat-NYA akan pentingnya berkurban demi sesama.

Ironis

Iyah, ironis.

Disaat semua harga naik menjulang, susu, minyak, beras, telur, bahkan ada issue BBM tahun depan juga naik, ditengah para pelaku ekonomi juga semakin jengah dengan penurunan profit karena kenaikan ongkos produksi, masih saja banyak yang menghambur-hamburkan uang dengan percuma. (FYI, harga kambing juga ikut naik looh, buruan beli sekarang hiks2!) Apakah tingkat stress yang meningkat juga berbanding lurus dengan kebutuhan untuk menghambur-hamburkan uang?

Sebuah tragedy ironi yang kontradiktif terjadi, pagi-pagi ada berita di televisi bahwa daya beli masyarakat menurun dengan adanya kenaikan harga barang komoditi. Market size shrinking di-lower segment, banyak orang terpaksa menghemat belanjaan sehari hari dan dengan ngoyo ngantri minyak dan bazaar sembako.

Disisi lain sangat kontras dengan apa yang aku lihat siang tadi.

Siang tadi aku diantar sopir kantor ke Rumah Sakit MMC (Metropolitan Medical Centre), rumah sakitnya kaum expat dan artis. Off course tarifnya juga ruar biasa, kalo aku nggak diganti ama kantor, nggak mungkin aku mau berobat di situ, huhuhu. Harga dokter 250 rebu dan harga salep kecil 400 rebu, alamakkkk!

Sambil ngantri, aku baca komik dan sesekali melihat orang yang lalu lalang, siapa tau ada yang cakep (dan pasti tajir!) yang bisa di kecengin (peace, My Love! I love you). Eh ternyata pas di apotiknya ngantri bareng Tantowi Yahya yang punya keluhan dengan kadar gula darahnya (wooo, gw jadi nggosip…).

Beberapa orang tampak lalu lalang sepertinya mereka membezuk sodara atau relasi yang tengah rawat inap disana. Yang menarik nih, most of (yang terduga sebagai) pembezuk pada membawa rangkaian bunga yang indah-indah. Hehehe, orang sakit kok dikasih bunga ya? Pasti kamarnya jadi kayak tempat penjualan bunga. Bunga-bunga jenis mahal yang aku taksir harga paling murahnya 500-an rebu. Glekkk.

Saking seringnya pakai bunga untuk nengok, beberapa florist (pengusaha rangkaian bunga) malah memasang iklan disana. Ladang bisnis yang menawan.

Sepulang dari Rumah sakit, aku mengajak diskusi sopir kantorku, pak Miran, yang memang basic-nya sosialis. Pak Miran menyambut diskusi dengan hangatnya dan penuh semangat.

“Wah, coba ya kalo emang harga karangan bunganya diatas 500 rebu, dikampung saya, itu bisa buat beli kambing satu. Kan lumayan buat dijadikan hewan kurban.” Tutur pak Miran.

Iya ya, simple dan bener. Iya sih, karangan bunga paling lama tahan satu minggu, abis itu dibuang mubadzir. Kalo digunakan buat nyumbang ke panti asuhan pasti dah bikin anak se panti senyum semingguan, 500 rb cukup lah buat makan seminggu 20 anak.

Kadang emang sulit ngikutin gaya berpikir orang kaya. (gw yang susah ngikutin gaya berpikir mereka atau karena gw yang udik dan super norak ya?). Dunno…

Kita punya banyak teman yang kaya dari lahir. Tingkahnya ya macam-macam, ada yang normal dan ada yang aneh. Sakin frustasinya terhadap salah satu kawan, Devina pernah bilang,

“Kadang being rich dari kecil membuat orang kurang sensitive…”

I dunno wether it’s true or not…

Berzakat juga mengajarkan kita untuk berkurban. Dan zakat Cuma 2.5% dari kita punya penghasilan. Nggak apa apanya dibandingkan government tax 10%, PPh 15-25% progresif. Seorang teman pernah berkeluh kesah.

“Kita itu beli apapun dipajekin, dapet penghasilan juga di pajekin. Kalo pemerintah ampe kagak punya duit sebenernya kebangetan.”

Iya sih. Seharusnya penghasilan kotor pemerintah itu setidaknya 10% dari total omzet industri baik jasa maupun produk di Negara ini. Ya Allah, kemana hilangnya uang-uang itu. Apakah "pipa"-nya terlalu panas sehingga banyak yang menguap di tengah jalan?

Makanya karena nggak transparan ini, banyak pengusaha yang menghindari pajak. Beberapa klien besarku juga melakukannya. Mereka men-split transaksi atas nama beberapa orang untuk menghindari pajak yang ugal-ugalan. Sigh…

Andai saja kita semua tau, bahwa esensi membayar pajak dan zakat adalah bagian dari berkurban…

Seandainya aparat pemerintah juga jujur, pasti Negara ini akan kaya, dan masyarakat akan senang untuk membayar pajak…

Setidaknya, mari tanamkan pada diri kita sendiri, kesadaran untuk mau dan cinta berkurban. Mulai dari hal yang kecil, sekarang….

Boeddy Chivu

*) Clue untuk cinta berkurban: Melihat kebahagiaan orang lain sebagai kebahagiaanmu.

Jumat sore, 1 Desember 2007, menjelang magrib. Aku tengah berbenah merapikan buku, memasukkan pada tempatnya, masukin HP ke kantong, serta mematikan komputer. Tonight is Lady’s Nite. Kita berencana untuk makan di Setiabudi building bersama para gadis yang lain, ableh Citra, Devina, dan Yvonna.

Setelah sholat magrib, anak-anak masih sibuk dengan urusannya padahal aku dah terlanjur shut down my computer. Ya udah deh, sambil nungguin mereka, aku mending beres-beres file juga biar tampak lebih rapian.

Aku tersenyum sendiri melirik tumpukan majalah dan resep di samping kiriku. Makin lama makin banyak. Ada majalah Sedaap, tabloid Saji, Femina, Resep-resep masakan, minuman dan kue. Sejak kapan ya aku ngumpulin barang-barang itu? Biasanya kalo dapat barang itu langsung aku pass on ke para chefs buat diliatin, eh sekarang aku lebih suka keep’em for my self.

Otakku berputar, hem…kayaknya sejak aku dah mantepin ati buat menikah atau lebih tepatnya sejak si mas mem-propose aku, aku jadi koleksi resep-resep itu. Semuanya nggak beli, secara kita pemasang iklan, makanya sama agensi iklan kita suka dikasih gratisan tiap edisinya. Lumayan kan, walo sampai kini belum sempet buat nyobain resep-resep menariknya.

Tiba-tiba aku tertawa sendiri. Rupanya aku terjebak di pre-marriage syndrom. Para gadis biasanya sibuk belajar masak buat nyenengin para suaminya kelak, dan…oh my God, secara nggak sadar aku juga melakukannya, hahahaha.

Calon suamiku suka sekali makan, makanya aku jadi makin semangat buat belajar masak dengan para chef. Kerja di divisi food memang menyenangkan, sambil bekerja, bisa menyalurkan hobi dan banyak belajar. Apalagi disini ada mas Widhi, seorang iron Chef yang menjuarai Allez Cuisines berkali-kali. Juga ada paman Bulu, Brian dan Gun Gun yang suka share berbagai jenis tips. Aku yang dulu taunya masak oseng-oseng dan lodeh, sekarang jadi tahu bagaimana membuat steak dengan saus demiglace, memasak spagetti, pasta dengan oregano, basil, thyme, dan herbs dari negerinya si Oom Maldini.

Tapi aku agak kuatir dengan syndrom kalo lelaki yang menikah menjadi makin gemuk gara-gara dimasakin sama istrinya dengan penuh cinta. Acung sebelum menikah beratnya tujuh puluh, dan setelah dua tahun menikah, angka 80 kg sudah kurang 500 gram lagi. Terakhir ketemu di Jakarta, perutnya sudah buncit sekali, aduh, mbokdhe Beruk masakin apa aja nih buat si pakdhe Beruk…

Acung (a.k.a pakdhe beruk) yang aku komplain dengan beratnya yang sekarang, bercerita,

“Aku pulang hampir larut malam setiap harinya. Aku pasti dah makan di kantor, tapi setiap pulang di rumah istriku dah masakin makan malam. Dan dia akan cemberut kalo aku ga makan hasil kerja kerasnya. Ya gitu deh. Makan malam dua kali, terus dipakai bobo. Ya jadi kayak gini aku, mbokdhe.” Katanya sambil mengelus-elus perutnya.

Dengan tinggi 165 cm dan berat 79 kg, si Pakdhe langsung aku kasih kuliah panjang lebar, terutama mengenai bahaya obesitas. Bombom, iik, dan Yani mendengarkan sambil tertawa-tawa.

Bagaimana dengan calon suamiku? Sebelum membuat komitmen denganku, beratnya pernah mencapai 84 kg kalo aku nggak salah denger, sekarang beratnya tinggal 78 kg, proporsional lah yaw dengan posturnya yang hampir 10 cm diatasku.

Pertanyaannya: kenapa sama aku jadi makin kurus ya? Bukannya indikator orang seneng itu kalo makin gemuk, waaaa, jangan-jangan sama aku jadi bikin si mas makan ati, soalnya adeknya rese dan cerewet banget sih. Hehehe. Ga boleh makan itu, kurangi makan ini, stress deh dia, jadi kurus deeeh hihihi, kasian sayangku. Cup-cup…

Seorang teman yang sudah menikah duluan pernah memberikan nasehat,

“Agar suami kerasan dirumah, masakanmu mesti enak.”

Sekarang aku jadi berpikir. Apakah hanya itu ya? Soalnya kalo dimanjain pakai makanan, ntar bobot para suami akan membengkak. Boleh lah kita masak enak, asal jangan terus-terusan sehari 3 kali dengan menu yang berat. Iya nggak?

This is contoh dari one of the plan buat suamiku kelak:

Makan pagi: Susu tawar, sandwich daging/telur, buah-buahan segar. Main Message-nya, pagi perut terisi, nggak boleh kekenyangan, tapi cukup kasih energi, vitamin, dan mineral. Trus bekal di bawain buat nanti jam 4-5 sore.

Makan siang di kantin factory. Bebas. Message-nya, kurangi carb, perbanyak sayur dan protein.

Makan sore: Makan bekal. Aku akan belikan microwave kecil buat ditaruh di kantornya jadi makanan bisa diangetin. Makan sore sengaja akan diagendakan agar nanti di rumah sudah tidak terlalu lapar jadi bisa makan yang lebih ringan. Makan sore bisa sejenis sandwich, snack berat, atau juga nasi dan lauknya (soalnya nanti malam ga bole makan nasi banyak –banyak hehe). Jangan lupa minum teh untuk refresh dari kepenatan sekaligus support untuk antioksidan. Tehnya Lipton yaaa, kalo nggak ada Sari Wangi boleh lah (halah, iklan banget!).

Makan malam di rumah. Cukup salad dengan salami/roasted chicken/sosis/topping telur rebus plus buah-buahan segar (dimakan dengan yogurt manis atau di jus). Sup panas juga cukup mengenyangkan dan cepat dibuatnya. Makan terlalu kenyang menjelang tidur, membuat perut tak enak saat bangun pagi. Makan salad, soup segar, buah-buahan dengan sedikit protein hewani, akan membuat bangun tidur terasa ringan.

Ingat, perut buncit sangat mudah menghampiri lelaki. Kontributor terbesar untuk kebuncitan adalah makan malam kekenyangan. Sejauh ini sih, kelihatannya si Mas akur-akur aja dengan proposalku. Paling kalo ga tahan beliau akan makan dulu di luar baru pulang kerumah, hehehe, metode cheating yang pasti ketahuan.

Pokoknya menu seminggu dan variasinya open to discuss every week biar belanjanya bisa sekalian. Biar nggak bosan, boleh juga tuh makanan di rumah kita kasih tema. Today is western breath, tommorrow is sound of Oriental, next day is Indonesian Paradise. Waw, emang restoran doang yang boleh kreatif, hihihi.

Hari Sabtu dan Minggu, kita boleh break the rules alias boleh makan enak. Antara masak sendiri, makan diluar, atau makan di rumah mamah. Eat whaterver you want lah :p

Seorang teman lagi pernah menyarankan,

“Kamu mesti belajar sama ibunya untuk bisa masakin makanan favoritnya.”

Is it right?

Mas pernah bilang,

“Adek boleh masak apa aja buat mas, tapi jangan masakan yang biasa mamah masak atau masakan yang hanya enak kalo di makan diluar.”

“Mas nggak pengin nanti jadi ngebandingin masakan adek sama masakan mamah kalo kalian masak masakan yang sama. Soalnya pasti yang menang masakan mamah.” Tuturnya lagi.

Iya sih, masku benar sekali. Biasanya di majalah itu perseteruan menantu vs mertua bisa diawali dari masakan. Mereka berkompetisi memasak untuk sang suami/menantu. Penilaian mas sangat fair, mendingan kalo mau bikin makanan favorit mas, cari jenis makanan yang lain, bukan masakan mamah.

Hem… Logikanya ini sama dengan prinsip memasarkan produk. Jangan membuat produk yang sudah lebih dulu ada di pasaran kecuali selamanya akan menjadi yang kedua/follower. Lebih baik menciptakan produk yang baru dan menjadi raja di sana.

Thanks to mas yang dari awal udah ngasih tau. Kalo nggak pasti aku juga terjebak di “kompetisi masak sayur asem” antara sayur asem buatan mama vs sayur asemku hehehehe!

Be different, honey!

Selanjutnya mas juga bilang,

“Dan jangan juga memasak masakan yang hanya enak di makan diluar rumah, soalnya pasti nggak enak.”

Masku suka makan rawon dan pecel. Even kalo mamah yang masak pun, si mas nggak suka dan tetep milih makan di luar. Aku mencoba berpikir pakai logika, iya juga sih. Tukang pecel ama tukang rawon pastinya dah berkutat turun temurun berpuluh-puluh tahun menekuni perpecelan dan perawonan, kontras denganku yang baru tau rawon aja baru akhir-akhir ini, hehehe. Aku yang buta masakan jawa timuran harus masak hidangan khas daerah sana pastinya akan butuh waktu biar jadi pas.

Senengnya udah dikasih warning dari awal. Ya udah, kalo gitu aku bikin rawon ma pecelnya modifikasi aja. Rawon bening dan pecel saus mayo khas Dyah, hahahahha! Gubrakkk.

So kembali lagi menekankan buat para gadis yang juga (ehm-ehm) menikah. Never compete with your mother’s in law cooking. Coz you will never win.

Kalo pun suamimu bilang,

“Enakan punya adek kok”

I bet, 90% pasti itu suami lagi white lie, buat nyenengin istrinya. Setiap orang sudah punya “signature”nya sendiri-sendiri, dari pada pusing setengah mati bikin copy-annya, mending berkreasi sendiri bersama saya, hehehe!

Tapi kalo suami komentar kalo kurang enak ya jangan sakit ati, anggap sebagai support untuk do better. Kan kita lagi sama-sama belajar. Pasti beliau juga akan sangat memakluminya kok.

(Duh, aku jadi kayak orang gila, ngebayangin sambil senyum-senyum sendirian).

Atau ada hal yang kepikiran olehku tapi belum dipraktekkan. Teorinya sih gini, untuk mengakrabkan diri dengan mother in law, coba deh kalian berdua memasak hal yang sama sekali baru buat kalian berdua. It will so fun secara masih meraba-raba. Jadi kalo hasil akhirnya jelek, nggak ada yang saling menyalahkan, yang ada pasti lucu sekali. (Semoga begitu, orang tua kadang susah ditebak maunya :( ).

Oya, untuk membenarkan teori ini atau setidaknya menguatkan hipotesa (walah!), aku pernah mengalami hal ini sekali, bukan dengan mom’s in law sih. It was dengan my senior baker yang ahli bikin roti, dalang suksesnya Blue Band di balik layar. Waktu itu kita download resep aneh dari internet dan kita coba berdua di dapur. Hasil awalnya jelek, but we both keep trying, sampai akhirnya sukses. Kita berdua seneng banget. Walopun dia sudah senior, ternyata dia masih ada hal yang nggak tau. Dan pas mecahin masalahnya bersama, that was fun!

Semoga behasil, mari kita amalkan bersama…

Dyah Chivu

*) Dari adek dengan penuh cinta, can’t wait untuk segera mencoba memasak & bereksperimen sesegera mungkin ^_^. Merindukan dapur yang alat-alatnya lengkap untuk menyalurkan keinginan membantai bahan makanan. Waaa, mau!

Kalo baca di Koran-koran, kasus TKW yang teraniaya tetep tidak semakin surut. Anehnya walo kisah-kisah TKW yang diperlakukan tidak hormat di luar peri kemanusiaan sudah sangat mengerikan bahkan banyak yang berujung pada maut, itu tidak menyurutkan langkah para calon-calon TKW lain yang mau mengadu nasib di negeri orang. Rela mengambil resiko yang luar bisa demi sebuah asa untuk mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik.

Sedih sekali ya, Indonesia yang seluas ini masih tak mampu menciptakan lapangan kerja bagi penduduknya sendiri, sehingga kaumnya hanya punya dua pilihan mencari sesuap nasi, apakah itu tercentralized di Jakarta yang makin sesak ataukah hijrah ke negeri orang. Sebuah panggilan hati untuk turut berpartisipasi menjunjung harga diri bangsa hanya masih dalam tahap wacana saja.

Sigh…

Merantau…

Mengais rizki

Semua demi secercah harapan untuk hidup lebih layak. Masih mending kalo para wanita (yang seharusnya bekerja bukanlah sebuah kewajiban – ironisnya) yang rela berbondong-bondong mendatangi agen penyaluran kerja itu adalah para gadis yang tak punya tanggungan suami dan anak. Sayangnya mayoritas dari mereka adalah ibu-ibu usia 28 tahun ke atas yang akhirnya terpaksa merantaukan diri untuk karena desakan kebutuhan rumah tangga. Mengalahkan rasa takut dan khawatir meninggalkan suami dan anaknya untuk berjuang.

Seorang teman menyeletuk,

“Kok yang pergi istrinya? Kenapa bukan suaminya aja yang jadi TKI?”

Masalahnya, kebanyakan lowongan yang tersedia buat para wanita. Bukan untuk para lelakinya.

Masih ingat peristiwa dua tahun silam.

Waktu itu bulan Ramadhan, aku ada meeting di KL bersama my big boss Corine. Si Boss udah pergi duluan sejak dua hari sebelumnya since she must attend the whole meeting. Sedangkan aku meetingnya Cuma 3 hari terakhir saja.

Puasa-puasa aku berangkat dengan KLM jam 3 sore. Time calculated, bakal sampai KL magrib saat buka puasa. Karena ga sempet beli apa-apa, aku Cuma bawa sebotol Aqua saja. Jam 8 malam udah di tunggu di KL Hilton untuk makan malam, makanya aku pikir buka ntar di Hilton sekalian.

Sampai di KL airport, sekitar 15 menit sebelum magrib waktu setempat, biasa, kita mesti lapor di bagian imigrasi, ngisi-ngisi kartu imigrasi yang berbahasa inggris. Saat lagi asyik-asyiknya ngisi form, dua orang ibu-ibu nyamperin aku. They talked in bahasa.

”Mbak, dari Indonesia ya? Bisa bantuin kita ngisi kertas ini nggak?” Kata seorang diantaranya sambil menyodorkan dua lembar kertas.

Mungkin karena dia melihat pasportku warna ijo dan ada gambar garudanya, dia merasa nyaman untuk minta tolong. Aku liat sekeliling, emang aku dan dua orang ibu ini aja yang orang Indonesia. Lalu aku pun mengisikan form imigrasi mereka sambil menanyai beberapa hal soal mereka.

Kedua ibu tadi, satu asal dari Tegal. Satu usia 35 tahun, satunya baru 25 tahun, ibu 35 tahun memiliki suami dan dua anak, ibu 25 tahun juga memiliki suami dan seorang anak. Mereka masih muda but their looks so much older than their ages. Mereka mau jadi PRT di Malaysia tanpa agensi dan hanya berbekal alamat calon majikan. Sayangnya tujuan keduanya berbeda. Satu ke Negeri Sembilan dan satunya ke Perlis.

Kalo ga salah mereka mesti naik pesawat sambungan yang itu adanya masih nanti malam jam 10-an. Dan for your info, mereka udah terkatung-katung di bandara sebelum akhirnya mereka bertemu denganku within 2 hours.

”Kok ibu nggak nanya aja ke petugasnya?” tanyaku penasaran.

”Takut dan Malu mbak.”

Sigh…

Selesai ngisi form, pas magrib, aku bertanya,

“Ibu-ibu puasa?”

“Iya” jawab mereka serempak.

“Bawa bekal untuk berbuka?”

“Tidak.” Jawab mereka sambil menggelengkan kepala. Duh, sayang gw ga bawa apa-apa. Aku makin ga enak ati. Mereka bertanya lagi,

”Kalau mau ke negeri Sembilan ama ke Perlis kita harus ke mana ya?”

”Waduh saya juga tidak tau bu.”

Suddenly my boss calling, ngasih tau jam 8 udah ditungguin dan saat itu sudah jam 7 waktu setempat. Masih dalam dilema untuk buru-buru pergi ke Hilton atau membantu kedua ibu itu. Sayang, hati nuraniku kalah oleh ketakutan untuk telat hadir di dinner bareng para regional team. Sigh. Tuhan, ampuni aku…

My last word pada para ibu tadi sebelum aku tinggalkan adalah…

”Bu, maaf tidak bisa bantuin ibu. Saya juga nggak tau daerah sini. Tapi kalo ibu tidak tau apa-apa jangan takut untuk bertanya pada orang-orang yang berseragam merah itu. Mereka akan senang membantu. Mereka juga bisa bahasa Indonesia kok walaupun agak beda dengan bahasa kita. Ati-ati saja ya bu…”

Para ibu – ibu terlihat ketakutan saat aku meninggalkan mereka. Dengan berat hati aku melangkah, dengan perasaan penuh rasa bersalah, bahkan sampai sekarang tiap aku mengenangnya. Apa kabar para ibu itu? Apakah mereka sampai tujuan dengan selamat? Apakah mereka diperlakukan dengan baik oleh para majikannya? Semoga mereka baik-baik saja…

Tuntutan hidup semakin lama semakin tinggi. Bukan hanya TKW yang terpaksa mengambil resiko untuk hidup merantau jauh dari keluarga. Contoh disekitar kita pun banyak sekali.

Awalnya aku sendiri tak pernah membayangkan, untuk hidup berjauhan ketika sudah menikah. Melihat seorang teman yang Jakarta-Bandung aja kayaknya cape banget. Ketemu seminggu sekali. Tidak setiap ada pada saat pasangan membutuhkan bantuan. Sangat menyesakkan dan terlihat tidak sehat. Tapi ternyata hal itu menjadi fenomena lazim di Indonesia recent year. Long distant relationship in marriage life.

Dulu waktu Anna temanku yang kuliah di Belanda sedangkan suaminya bekerja di Indonesia, setiap blognya selalu berisi rasa penuh kerinduan. Saat Anna di Jakarta dan aku sempet berdiskusi untuk menggali kemungkinanku untuk sekolah lagi, dia pernah berkata,

“Kalo kamu mau sekolah lagi, sekolah aja sekarang. Mumpung kamu belum menikah. Kalo udah kaya aku, sedih banget loh, saling jauh…” Aku pun mengiyakan.

Bayangan untuk hidup bahagia, hidup serumah walo rumah kecil kontrakan, menyiapkan sarapan dan bekal untuk suami, mendapatkan ciuman selamat pagi, dan ucapan selamat tidur is the best part dari mimpiku bila aku menikah, belum lagi saat kemudian hamil, detik-detik menunggu kelahiran si kecil ditemani suami tercinta, wow, that was an amazing dream.

Tapi ternyata harapan ideal memang perlu perjuangan. Impian yang terlihat sederhana ternyata tidak sesimpel itu. Semuanya karena kebutuhan. Kebutuhan untuk hidup lebih baik, pendidikan yang layak, dan kebutuhan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam (walah!). Kalo nggak mau dibilang kasar menjadi budak uang juga sih, menjual waktu berharga bersama keluarga untuk harapan bersama… Hiks-hiks!

Semoga orang-orang yang mengalami ujian untuk berjauhan dengan keluarganya mendapatkan kesabaran untuk melalui semuanya. Someday, will be back to what is supposed to be. The real value yang diperjuangkan selama ini. Amien..

Selama money have mouth and keep talking, memang susah untuk melawannya. Semoga kita bukan budak materi. Uang hanyalah alat untuk menggapai kebahagiaan.

Jadi ingat tulisan seorang teman,

“Bukannya Allah tidak sayang, kadang cara Ia menyanyangi kita memang berbeda. Saat kita meminta menjadi orang yang sabar, kita akan di tempa masalah untuk menguji derajat kesabaran, saat kita meminta agar dijadikan orang yang baik, segala jenis keburukan ditimpakan kepada kita.”

Mungkin ini jawaban Allah atas doa kami untuk tetap menjadi orang yang selalu bisa bersyukur, hamba yang zuhud dan ridho kepada-Nya.

Hanya pada-Nyalah kita berserah diri. Tetaplah menjadi hamba bersyukur. Toh keadaan kita jauh lebih baik daripada para saudari kita yang menjadi TKW?

Buat yang dianugerahi kesempatan untuk tetap tinggal serumah dengan keluarga masing-masing, syukurilah, percayalah bahwa itu berkah yang sangat indah. Brian si Paman Bulu pernah berkata,

”Mbokdhe, kalo aku nggak melihat dan berkaca dari perjalanan cintamu, aku mungkin ga bisa bersyukur dan nggak bisa menghargai bahwa kebersamaan dalam jarak yang dekat adalah suatu harta yang tak ternilai…”

Yes you are right. Absolutely correct.

Jakarta, Jam makan siang

Boeddy Chivu

*) We believe we can make it if only we are solid as a team.

*) Buat teman2 seperjuangan, Dayu-Wawan, Ulfa-Uda, Lily-Abud, Ajeng-si Mas, tetep semangat selalu :)

ONLY HOPE

There’s a song that’s inside of my soul; It’s the one that I’ve tried to write over and over again;

I’m awake in the infinite cold; But you sing to me over and over and over again;

Sing to me the song of the stars; Of your galaxy dancing and laughing and laughing again

When it feels like my dreams are so far; Sing to me of the plans that you have for me over again

I give you my destiny; I’m giving you all of me

I want your symphony; Singing in all that I am

At the top of my lungs; I’m giving it back

So I lay my head back down; And I lift my hands

And pray to be only yours; I pray to be only yours

I pray to be only yours; I know now you’re my only hope

Ini lagunya Mandi Moore. Jadi kepikiran untuk membahas soal HOPE

Sore itu malam senin, suasana hati Sekar lagi seneng banget soalnya si Mas lagi ke Jakarta. Terus mereka jalan cari makan di deket-deket kosan saja. Yah di warung-warung tenda sajalah ga perlu harus ke resto. Hehe, maklum mesti banyak menghemat secara tahun depan kebutuhan mereka makin banyak, hehehe.

“Adek mau makan apa?” Tanya si Mas pada Sekar.

“Nggak tau ya, bingung euy.. kita liat aja yuk apa yang ada.” Jawab Sekar.

Mereka lalu berjalan dari kosan Sekar ke tempat pangkalan warung-warung rombong kaki lima. Segala jenis makanan dari sekedar warung indomie, bakso, martabak, sampai pecel ayam ada. Mereka pun singgah di warung soto. Tak lama setelah makan soto, mereka pun pergi pulang ke kosan sekar secara nggak mungkin banget berlama-lama di warung soto yang super panas dan pengap itu.

Ditengah perjalanan si Mas bergumam pada Sekar.

Kayaknya kita tadi jalan lama banget baru sampai ya? Apa karena kita lapar? Kok sekarang jalan baliknya cepet banget?” Sekar tertawa dan mencoba mengeluarkan opininya.

”Tadi kita lama di jalan karena tujuannya nggak jelas, bingung mau makan apa. Kalo sekarang tujuan kita kan jelas, which is pulang. That’s why kita cepet jalannya.”

Then, as usual, both of them start analyzing situation.

“Iya. Sesuatu itu kalo jelas tujuannya, objectives-nya pasti akan ngasih frame work yang jelas sehingga menjalaninya lebih cepat dan mudah.” Tutur si mas.

“It is like giving us HOPE.” Ujarnya lagi.

Tujuan akhir yang jelas memang memberikan guideline yang luar bisa buat kita dalam melakukan sesuatu. Betapa pentingnya harapan itu.

Lalu si mas bercerita dengan menggunakan sebuah ilustrasi.

Ada seekor tikus dimasukkan kedalam tong yang berisi air. Si tikus dibiarkan berenang. Lalu tong itu di tutup rapat dan gelap. Kegiatan si tikus diamati. Ternyata si tikus tadi keep trying untuk berenang dan mati 3 jam kemudian.

Percobaan yang lain. Ada seekor tikus dimasukkan kedalam tong yang berisi air. Si tikus dibiarkan berenang. Lalu tong itu di tutup rapat tetapi dibagian atasnya diberikan sebuah lubang kecil yang memberikan penerangan dan memungkinkan si tikus melihat ke arah dunia diluar tong. Kegiatan si tikus diamati. Ternyata si tikus tadi keep trying untuk berenang dan baru mati 3 minggu kemudian.

Pada percobaan pertama, tikus seperti tidak memiliki harapan apa-apa. Sehingga kegelapan itu membunuhnya cepat. Namun pada percobaan yang kedua tikus diberikan pengharapan, tikus melihat dia punya tujuan akhir untuk bisa keluar dari tong.

Kembali lagi pada dinamika hidup ini. Sudahkah kita memiliki tujuan hidup? Karena tujuan hidup kita yang akan menjawab dari semua uncertainty yang terjadi. Mengembalikan kita kembali ke jalurnya bila kita lepas dari jalan.

Raih lah harapan.

Sekarang.

Sebelum segalanya menjadi terlambat.

Boeddy Chivu

*) Sambil mendendangkan lagunya Mandy Moore, ”ONLY HOPE”. How Lucky I am to have you, somebody who lead me to achieve the goals.

To Love Somebody…

Udah lama nggak nge-blog. Tiba-tiba baca-baca blog orang jadi pengen nulis lagi :p. tulisan kali ini nggak penting seperti biasanya, hanya mau mengomentari sesuatu yang nggak bisa dikomentari secara langsung.

Ada lagunya Queen yang judulnya “ Somebody to Love”. That was one of favourite song yang menemaniku mandi pagi jaman waktu masih kuliah tingkat akhir. Maklum jaman kuliah tingkat akhir-akhir itu kan biasanya yang kepikiran setelah lulus ada dua, antara kawin dan atau cari kerjaan. So kalo jaman tingkat akhir dan dah mau wisuda kok masih jomblo kayak gw, biasanya udah agak-agak panik tuh… hehehe.

Liriknya kurang lebih begini:

Can anybody find me somebody to love?

Each morning I get up I die a little

Can barely stand on my feet

Take a look in the mirror and cry

Lord what you’re doing to me

I have spent all my years in believing you

But I just cant get no relief, Lord!

Somebody, somebody

Can anybody find me somebody to love?

Lagu yang sangat desperado ya? :D

Soal mencintai dan dicintai, kelihatannya ini topik yang nggak pernah usang untuk di bahas. Ada yang menarik melihat perilaku orang saat dia mencinta atau di cintai oleh sesamanya. Tentu masing-masing perspektif punya penilaian sendiri-sendiri, dan kali ini dengan hormat tanpa mengesampingkan persepsi agama, norma, atau apapun itu, aku pengin melihatnya dengan my own perception…

So far what i can see, so far what I can feel, there are ada dua cara mencintai. Cara yang komplikated dan cara yang sederhana.

Cara komplikated ini biasanya seringnya menimpa abege yang gengsi masih tinggi, malu ketauan kalo naksir, udah tau saling suka juga dibikin ribet kayak benang ruwet. Some of them, sayangnya masih berlanjut sampai ketika percintaan itu harusnya sudah memasuki tahap pendewasaan.

Ketidaksefahaman, sering misunderstanding, banyak berasumsi merupakan ciri yang obvious dari cinta yang seperti ini. Menyedihkan, karena bukan kebahagiaan yang menjadi akhir dari kerumitan ini. Tapi bencana.

Cara mencintai yang sederhana adalah cinta dewasa yang apa adanya. Rasa terbuka, nggak jaim, nyante, mungkin bisa mewakili untuk mendeskripsikan dari rasa cinta ini. Rasa cinta yang bisa menimbulkan ketentraman dan ketenangan hati.

Jenis cinta manakah yang kau alami saat ini? Bagaimana kita mengidentifikasi jenis cinta yang mana kah yang sedang kita rasakan itu?

Just feel it…

Coz U only can feel it…

Kalo cinta yang kamu rasakan menyesakkan, menyedihkan, membelenggu, berarti cintamu masih ruwet. Segera sederhanakan kalo cinta itu mau ada masa depannya. Kalo emang cinta, kenapa harus bersikap synical, sceptical sama pasangan, say that you love her/him is the best thing to do. Keeping sceptical hanya membuat kalian jauh. Hanya sedih yang bisa dirasakan.

Seorang sahabat dekat berkata,

It’s hurt when you break up with someone

It’s hurt even more when someone breaks up with you

But it will hurt you the most when someone you love has no idea how you feel

So tell her/him that u love her/him. Mau diterima mau kagak, your duty is to tell.

Or you will regret the most…

Nggak semua hal bisa dianalisa dengan logika. My tutor di project management told me,

“Don’t analyse till u paralyze”

or “Keep Analyzing till u drops”

Analisa resiko is very important even for your personal feeling, but don’t get it dominant upon all the things. Karena rasa memiliki itu terasa justru kita (akan/telah) kehilangan…

Jangan sampai ketika sesuatunya sudah berlalu, sudah terjadi, sudah terlambat, kita hanya berandai andai…

"Seandainya tanggal itu aku juga ngomong begini…"

"Seandainya hari itu aku mencegahmu begitu…"

"ah, seandainya…"

Pls… dont…

Ah, kenapa jam makan siang jadi ngomongin cinta ya? I dunno… just wanna get this guilty feeling out of my mind. Pasrahkan saja semuanya pada-Nya. Pemilik segalanya dan tempat kembali segala sesuatunya…

Jakarta, 27 Nov 07

Boeddy Chivu

*) it is hurt me the most when someone you love has no idea how you feel

Older Posts »